Dukungan Keluarga Jadi Kekuatan Terbesar bagi Pejuang Kanker

"Anda ingin seluruh keluarga menjadi sebuah komunitas yang saling mendukung. Sebenarnya, alasan nomor satu mengapa orang bisa hidup lebih lama adalah karena mereka memiliki komunitas yang suportif," ujar Dr. See dalam Exclusive Media Roundtable & Interview di Jakarta pada Kamis (16/07).
Komunitas yang suportif berarti memiliki orang-orang yang selalu hadir ketika seseorang menghadapi tekanan hidup. Dukungan tersebut bisa datang dari mana saja, baik itu pasangan, anak, sahabat, maupun keluarga besar yang memberikan rasa aman dan diterima.
Stres kronis dapat menjadi beban yang berat
Dalam praktiknya sebagai dokter onkologi, Dr. See sering mendampingi pasien selama bertahun-tahun, hingga mengenal perjalanan hidup mereka di luar penyakit kanker.
Ia menyaksikan pasien menghadapi perceraian, kehilangan pekerjaan, konflik keluarga, hingga persoalan kesehatan mental yang berlangsung dalam waktu lama. Menurutnya tekanan seperti itu lah yang lebih sering menjadi perhatian dibanding diagnosis kanker itu sendiri.
"Saya melihat begitu banyak tekanan hidup dan tekanan dalam keluarga (pada pasien). Bukan terlalu banyak masalah keuangan, tetapi lebih banyak masalah keluarga dan kesehatan mental," tutur Dr. See
Keluarga perlu menjadi tempat yang aman
Dr. See kemudian menceritakan salah satu pasien yang telah didampinginya selama 11 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, pasien hidup di tengah tekanan akibat suami yang berselingkuh dan anak yang mengalami gangguan kesehatan mental.
Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bagaimana stres kronis dapat terus menguras kondisi fisik maupun emosional seseorang. Oleh karena itu, keluarga seharusnya menjadi tempat untuk saling menguatkan, bukan justru menambah tekanan.
Ia menilai banyak orang dari Generasi X dan sebagian milenial tumbuh dengan kebiasaan mengutamakan kebutuhan semua orang di sekitarnya, tetapi melupakan dirinya sendiri.
Dukungan sederhana, seperti memberi ruang bagi orangtua untuk beristirahat atau memastikan mereka tidak memikul semua beban sendirian, dapat membantu pasien terus bertahan.
Menemani juga merupakan bentuk perawatan
Bagi Dr. See, perasaan didengar dan ditemani selama menjalani pengobatan juga dibutuhkan oleh pasien kanker, bukan terapi medis saja.
Ia memaparkan, sebagian besar pasien justru tidak mengingat detail obat yang diberikan selama masa pengobatan. Namun, yang mereka ingat adalah bagaimana mereka diperlakukan selama proses tersebut.
"Sebagai dokter, saya melihat bahwa mereka tidak selalu ingat nama obat atau jenis terapi. Yang mereka ingat adalah apakah mereka merasa didengar, apakah mereka merasa ditemani, apakah mereka merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar diagnosis," tulis Dr. See dalam refleksi pribadinya.
Dalam perjalanan melawan kanker, dukungan keluarga dan komunitas menjadi bagian penting yang membantu pasien untuk tetap merasa memiliki harapan dan kualitas hidup yang baik.
Sebelumnya: Final SEA V Cup 2026: Kejutan Kamboja, Indonesia Batal Hadapi Thailand
Selanjutnya: Bangun Batch 3 IKN, Basuki Minta Tambahan APBN Rp 2,7 Triliun
Artikel Terkait
- Anggaran Bangun Ulang JPO Tendean Belum Ada, Pramono Cari Dana CSR hingga KLB
- Reza Arap Ungkap Album Weird Genius Hampir Rampung
- Pakar Nilai Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Calon Belum Diperiksa
- Tinggalkan Motor 2 Menit untuk Ambil Paket, Ojol di Tangerang Jadi Korban Curanmor
- Pengasuh Ponpes di Wonogiri Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Modus Janjikan Sekolah Kedinasan
- Prabowo Buka Sidang Kabinet: Kita Evaluasi Apa yang Sudah Dikerjakan
- 775 Siswa Bintara Polda Metro Berkemampuan SPKT Resmi Dididik di SPN Lido
- Bikin Sinyal di Jakarta-Jabar Hilang, Pencuri Modul BTS Diatur WNA di Bangkok
